Download buku “Ilusi Negara Islam”

Buku Ilusi Negara IslamSebagai pengantar, buku hasil penelitian selama lebih dari dua tahun ini mengungkap asal usul, ideologi, dan agenda gerakan garis keras transnasional yang beroperasi di Indonesia, serta rekomendasi membangun gerakan untuk menghadapi dan mengatasinya secara damai dan bertanggung jawab. Termasuk didalamnya membahas Hidden Agenda PKS yang dituliskan sebagai agen kelompok garis keras Islam transnasional. Buku ini bahkan rencananya akan diperbanyak di empat negara di dunia yakni Turki, Arab Saudi, Inggris dan Amerika Serikat. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Pernah dengar Beasiswa Riyanto?

Riyanto adalah nama salah satu anggota banser Nahdlatul Ulama (NU) organisasi Islam di Indonesia yang meninggal pada saat bertugas menjaga perayaan Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto tahun 2000. Beliau dianggap sebagai pahlawan nasional dan pejuang kemanusiaan yang dengan gigih mengorbankan jiwanya untuk menyelamatkan warga tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan.

Dan nama tersebut dipakai oleh The WAHID Institute untuk menamai sebuah program beasiswa dalam negri yang menyelenggarakan program baru dibidang pendidikan yaitu beasiswa pendidikan untuk siswa SMP/MTS/sederajat dan SMU/MA/sederajat yang nantinya akan dikembangkan sampai dengan tingkat sarjana. Program ini diluncurkan pada tanggal 9 Nopember 2008 di Surabaya bertepatan dengan Hari Pahlawan dan diberi nama BEASISWA RIYANTO. Baca entri selengkapnya »

Mengapa Masjid Harus Diambilalih??

Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya harus lebih waspada terhadap kemunculan gerakan, paham dan kelompok Islam garis keras yang marak belakangan ini. Karena, sedikitnya tiga masjid milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) di Banyuwangi, Jawa Timur, sudah diambilalih oleh kelompok tersebut. Mesjid yang diambil alih tersebut diantaranya ada di Purwoharjo, Genteng dan Ketapang. Menurut Muhdor Adib, Ketua Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Indonesia (LTMI), sebelum mengambil alih masjid-masjid NU, kelompok Islam garis keras tersebut awalnya mempersoalkan status hukumnya. “Awalnya mereka mempertanyakan sertifikat. Apakah masjid tersebut bersertifikat atau tidak. Muhdor mengakui, hal itu memang cukup menjadi persoalan tersendiri bagi warga nahdliyin sehingga menjadi sasaran empuk bagi kelompok tersebut. Pasalnya, pada umumnya masjid-masjid yang dibangun warga NU tidak bersertifikat. “Kita tahu, kalau orang NU bikin masjid itu kan atas dasar lillahi taala. Jadi tidak perlu sertifikat segala,” ujarnya.

Ditambahkan mantan ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Banyuwangi itu, gerakan kelompok Islam garis keras tersebut cukup ‘cantik’ dan bahkan membuat warga simpatik. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Agama, Politik. Tag: , . 30 Comments »
%d blogger menyukai ini: