Film “Sang Pencerah” dan Permainan Hanung Bramantyo?

Film Sang PencerahKali ini saya akan mengutip sebuah tulisan yang mengindikasikan tentang pemikiran seorang sutradara yang sepak terjangnya sungguh keterlaluan. Siapa yang tidak kenal dengan sutradara Hanung Bramantyo yang membidani film “Sang Pencerah”, kalau dulu saya sempat memujinya karena dia yang pertama kali merintis film bergenre religi dengan lehirnya film Ayat-ayat Cinta. Berikutnya saya mulai berpikir ternyata ayat-ayat cinta yang dia filmkan itu berbeda sekali dengan novel n cerita aslinya, mengambilan sudut pandangnya pun juga keliru. Berikut saya kutip tulisan yang sejenis yang menyebutkan sepak terjang Hanung.

Meski tindakan Komunis selalu brutal dan menghalalkan segala cara, ternyata masih ada manusia Indonesia yang menjadi pengagum Komunisme bahkan berusaha memperjuangkannya melalui film-film yang selama ini dibuatnya, seperti yang dilakukan sutradara muda, Hanung Bramantyo, suami aktris Zaskia Adya Mecca, yang merupakan istri keduanya setelah ribut di Pengadilan Agama dengan istri pertama. Adapun film garapan Hanung yang sangat kental bau Komunisnya sekaligus Sepilis (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) serta menghina Islam adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Saking kagumnya dengan Komunis, sampai-sampai ringtone hand phone Hanung bernada lagu khas Gerwani PKI, Genjer-Genjer. Hanung juga pernah membuat film yang sangat kental bau komunisnya, Lentera Merah, kalau diplesetkan menjadi Tentara Merah.

Film yang dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel PBS karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO yang memperjuangkan faham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi AS. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya. Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan sebagainya.

Dikisahkan, seorang santriwati yang juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal di kompleks pesantren, frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering melakukan kekerasan, akhirnya memutuskan untuk kembali dalam pelukan mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Bahkan Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut, padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. “Zinahi aku…Zinahi aku…!”, desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan pakaiannya satu persatu.
Ketika kedua insan lain jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan, akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri. Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil mengatakan, “ yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah melakukan dosa!”, padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk menyelamatkannya dengan mengatakan, “yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa”. Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya melalui film.

Jelas dengan menampilkan hukuman rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, Karl “Hanung” Mark ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah. Dengan membuat film PBS, sesungguhnya Karl “Hanung” Mark telah melakukan anarkhisme psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Hanung dengan sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan kantong koceknya.

Sebagaimana dalam film Lentera Merah, dalam film PBS Karl “Hanung” Mark all-out mendukung Komunisme alias PKI isme. Terbukti dalam film PBS ada adegan pembakaran buku-buku karya Karl Mark dan sastrawan kiri Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia, oleh para santri di lingkungan pesantren. Padahal dalam novel aslinya, jalan cerita tersebut tidak ada sama sekali. Bahkan buku-buku karangan Pramoedya seperti Bumi Manusia dan Anak Segala Bangsa sepertinya dijadikan bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya. Hal ini menunjukkan Hanung selain pengagum Karl Mark juga pengagum Pramoedya. Padahal banyak sastrawan sekaliber Pramoedya dan karya-karyanya malah lebih bermutu seperti Buya Hamka. Mengapa Hanung tidak menjadikan buku-buku Buya Hamba sebagai bacaan wajib bagi Annisa dan para santri lainnya, justru buku sastrawan yang pernah menghuni penjara di Pulau Buru itu dijadikan bacaan wajib.

Dengan demikian, sudah sangat jelas dalam film PBS terdapat motif ideologi Komunis yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kembali tegaknya Komunisme di Indonesia meski dalam bentuk lain. Hanung mafhum betul bahwa satu-satunya jalan untuk mengembalikan ajaran Komunisme di Indonesia adalah mendiskreditkan ajaran Islam dan umatnya, dimana sasaran pertamanya adalah pondok pesantren yang selama ini menjadi basis kaum Nahdhiyyin dengan memojokkan para kiyai NU.
Adapun sasaran berikutnya adalah mendiskreditkan para pemimpin Islam di Muhammadiyah. Sebab kedua Ormas Islam ini mempunyai pengikut terbesar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika Hanung akan meluncurkan film KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah” tepat pada pelaksaan Muktamar Muhammadiyah ke 46 di Jogjakarta 2-8 Juli ini. Namun anehnya justru para pemimpin Muhammadiyah tidak curiga sama sekali akan sepak terjang Hanung selama ini yang selalu mendiskreditkan Islam dan para pemimpin Islam seperti dalam film PBS. Sekarang sudah terbukti, pemeran utama sebagai KH Ahmad Dahlan dalam film “Sang Pencerah” adalah Lukman Sardi, putra seorang komponis muslim dan pemain biola kawakan Idris Sardi namun sekarang telah murtad dari Islam dan menjadi Kristen. Bayangkan, seorang ulama besar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan kok diperankan oleh seorang murtad, jelas ini suatu penghinaan terang-terangan terhadap Islam dan Muhammadiyah itu sendiri. Apa Ketua Umum dan 12 Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang terpilih dalam Muktamar nanti tidak malu ketika melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dilecehkan dan direndahkan pribadi dan martabatnya oleh Karl “Hanung” Mark ?

(dituliskan oleh Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan dan Hanung, Sungguh Terlalu!!)

Iklan

16 Tanggapan to “Film “Sang Pencerah” dan Permainan Hanung Bramantyo?”

  1. ada saja Says:

    Sekilas membaca artikel sebelumnya (masih seputar Hanung Bramantyo), saya beranggapan kalau penulis berlebih lebihan dalam menanggapi film buatan sutradara tersebut. Namun setelah membaca artikel ini, gambaran anda mengenai Hanung bukanlah sekedar imajinasi belaka. Saya bahkan bisa dibilang sependapat dengan anda mengenai karakter film yang disampaikan Hanung telah melecehkan, bahkan memberi kesan kalau Islam itu agama yang hina. Saya sebagai muslim tentu tidak terima. Memang saya akui kalau menjalani hidup masih seperti pohon yang baru mencoba untuk berbuah. Namun apa yang saya lihat dalam hidup, pelajari, dan saya pahami tidak seperti film-film tersebut. Film tersebut jelas telah dipengaruhi paham sekular dan zionis.
    Saya harap bagi saudara-saudara saya yang muslim harus lebih peduli dan merasa sakit, bila Agama kita dilecehkan. Jika orang-orang muslim itu sediri itu tidaklagi peduli dengan Agamanya niscaya kehancuran akan menimpa kita suatu saatnya nanti.

  2. sangpenjelajahmalam Says:

    Belum nonton, hiks…

  3. skankin Says:

    Bagaimanapun film nya tetep bagus

  4. kerajinan Says:

    ada kasetnya belum tuh?mau beli

  5. Syaiful Says:

    Loh, Lukman Sardi murtadin tah? Koq bisa2nya pemeran KH Ahmad Dahlan seorang non muslim??

  6. sulis Says:

    baguzzzzzz bgt filmx

  7. erwin Says:

    saya awam dan belum nonton…muga ini tidak berlebihan

  8. sebuah karya Says:

    hebat hebat hebat….

    kapan2 kita bikin film tentang ISLAM… bukan ISLAM DALAM PEMIKIRAN KOMUNIS

  9. matbondet Says:

    Akan dibuat film islam,.. yang akan menandingi Si hanung.. dg judul Mat bondet, facebok akun : Mat bondet…. insyaallah.

  10. Muhammad Abid Says:

    anda yang hanya bilang “berlebihan”, “bagus”, mengkritik secara serampangan, sadarilah sikap anda tidak sportif, konyol dan ke kanak-anakan. jika memang anda tidak sependapat dengan artikel di atas. silakan buat artikel yang menandinginya. begitu jadi lebih ilmiah dan mudah ditanggapi.

  11. novi Says:

    saya gk akan pernah lagi nonton film yg d sutradarai hanung, sumpah gw sakit hati islam begitu jeleknya d gambarkan dlm filmnya. PBS,saya pernah tonton sbnrnya pas nonton film itu saya,sudah langsung mengkritik filmnya pada saat pas tonton,benar film itu menyesatkan bayangkan seorang santri n anak kyai melawan n durhaka kpd orang tua.dan para kyai d gambarkan keras dan otoriter di filmnya.eh gk d sangka setelah film itu tayang benaran di kecam oleh MUI. alhamdulillah film sang pencerah saya sedikit tak tergerak untuk menontonya karena udah pasti islam di jelek2in lagi dalam filmnya hanung.dasar manusia komunis.

    • wayan Says:

      baru di filemkan,bagaimana kalau di haramkan,disesatkan,dikafirkan,dibom,dibunuh………..?

    • joker Says:

      tapi kenyataan lho, banyak anak kyai yang sudah keluar dari koridor “pesantren”. banya yang di pesantrem alim, rajin ibadah, tapi kalau di luar kembali ke habitat. mungkin ayahnya hebat, menjadi kyai karena riyadoh, prihatin, belajar. tapi anak-anaknya adalah produk keluarga kaya, bahkan belebih. hasilnya, anak yang manja, borju, dan hedonis. apalagi kyai juga manusia, banyak kok yang tak bisa lepas dari “perangkap politik”, dengan segala gula-gulanya.

  12. Nissa Nisa Nissa Says:

    pemikiran anda sempit,pahami islam,pahami muhammadiyah,barulah menulis artikel untuk kritikan film ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: