Akar Radikalisme dan Fundamentalisme adalah Kebodohan?

Dalam sebuah diskusi antara Ketua Dewan Mufti Rusia Seikh Ravil Gainutdin dengan Dubes RI Hamid Awaludin membahas “Root Causes of Terrorism,” keduanya sepakat bahwa radikalisme dan fundamentalisme utamanya disebabkan oleh rendahnya pendidikan, kemiskinan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Dan disepakati bahwa pemberdayaan kaum moderat merupakan suatu keharusan dalam pengembangan masyarakat modern jila tidak ingin fundamentalisme muncul dan menjadi ancaman bersama.

Menurut Seikh Gainutdin, umat muslim Rusia merupakan umat muslim yang cinta damai, berpendidikan dan bersikap toleran terhadap agama lain. “Salah satu tugas utama Dewan Mufti Rusia adalah terus berupaya menanamkan pendidikan keagamaan terhadap warga Rusia,” ujarnya. Pemahaman pengetahuan ajaran Islam yang mendalam dan maraknya toleransi dalam kehidupan beragama dapat menghindarkan pemikiran radikal dan fundamental yang mengarah pada aksi-aksi kekerasan.
Pemberantasan kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan menjadi sangat penting dalam konteks Indonesia dan Rusia, karena memang di kedua negara dua hal tersebut masih menjadi problem. “Keduanya ada kemiripan peta masalah,” tambah Hamid.

Sementara itu, saya setuju dengan tulisan berikut mengapa banyak pemuda-pemuda Islam terjerumus kepada pemahaman terorisme Sebabnya antara lain karena mereka:

1. Meremehkan dakwah kepada Tauhid, dengan alasan urusan Aqidah telah diketahui banyak orang dan mungkin dapat memahaminya dalam jangka sepuluh menit. Merekapun enggan untuk mendakwahkan aqidah yang benar dengan sangkaan akan memecah belah umat.
2. Mencela ulama umat, merendahkan ilmunya dan memalingkan pendengarannya dari para ulama dengan dalih mereka tidak faham kondisi dan bukan ahlinya untuk menyelesaikan problema umat. (sering sekali mereka mengatakan ulama tidak paham trik-trik politik atau ulama hanya sibuk dengan tumpukan-tumpukan kitab)
3. Menjauhkan para pemuda dari ilmu yang syar’i yang berlandaskan Kitab dan Sunnah serta menyibukan mereka dengan nasyid-nasyid provokasi yang disebar disana-sini lewat media elektronik yang dibaca, dilihat ataupun didengar.
4. Meremehkan keberadaan pemerintah dan menjelaskan ‘aib-aibnya di atas mimbar atau lewat tindakan-tindakan yang meresahkan serta mentakwil nash-nash yang ditujukan untuk ta’at terhadap pemerintah, bahwa nash-nash tersebut untuk khalifah kaum muslimin seluruhnya.
(Mereka lupa atau pura-pura lupa dengan apa yang telah menjadi konsensus ulama bahwa dalam keadaan berbilangnya wilayah-wilayah Islam, maka setiap wilayah itu punya hak dan kewajiban-kewajibannya terhadap penguasanya, karena itu wajib untuk ta’at dalam hal yang ma’ruf dan haram untuk memeberontaknya selama menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah umat).
5. Menghadirkan para pemikir yang berpemahaman teroris (seperti Abu Bakar Baasyir) lalu mengumpulkan para pemuda dalam satu halaqah, mencuci otak mereka dalam pertemuan tertutup. Menjauhkan para pemuda dari ulamanya dan dari pemerintahnya serta mengikatkan mereka dengan tokoh-tokoh yang mana pemberontakan dan pengkafiran menjadi jalan pikirannya.
6. Mengajak untuk ber jihad, yang dalam pandangan mereka adalah menghalalkan darah kaum non muslimin dan hartanya, memprovokasi untuk membuat pengrusakan dan pengeboman dengan anggapan bahwa negeri muslimin adalah negeri kafir. Alasan mereka karena, hukum pemerintahan yang diberlakukannya bukan hukum Islam. Ini jelas pemahaman yang keliru dan membahayakan), karena itu menurut mereka negeri muslimin yang demikian keadaannya adalah negeri jihad, negeri perang.
Mereka tanamkan pemikirannya ini lewat sebagian nasyid-nasyid, bahkan sampai pada tahap melatih para pemuda menggunakan segala macam jenis senjata di tempat-tempat yang jauh dari penglihatan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
7. Menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran dan berkas-berkas serta kaset-kaset yang mengajak pada pemikiran teroris, pengkafiran kaum muslimin lebih-lebih ulama dan pemerintah.
Buku-buku seperti ini bila dibaca oleh pemuda yang belum matang pemikirannya dan tidak punya kemampuan ilmu, akan dapat merusak akalnya. Ia akan berjalan di belakang angan-angan, siap untuk menjalankan tuntutan-tuntutannya walaupun harus membunuh dirinya, atau lainnya dari kaum muslimin, atau membunuh orang-orang yang mendapat jaminan keamanan, demi untuk mencapai tujuan SYAHID DI JALAN ALLAH dan SURGA, seperti yang digambarkan oleh para tokoh-tokohnya bahwa inilah jalan yang benar, siapa yang menempuhnya ia akan mendapatkan cita-citanya dan sukses meraih ridlo Allah.

Intinya sih sama aja, kebodohan!

Iklan

4 Tanggapan to “Akar Radikalisme dan Fundamentalisme adalah Kebodohan?”

  1. Dayah mudimesra Says:

    Assalamualaikum

    mantaap that goe blog…. penuh info yang menarik untuk terus di telusuri…..

    tgk….. jak ta tukar2 link… syukrann

  2. Brillie Says:

    Out Of Topic: I just want to say… HAPPY NEW YEAR 2009!!!

  3. penghulu Says:

    kita dukung….

  4. donna Says:

    Kebodohan sebagai faktor penyebab radikalisme itu benar. Tapi mengidentikkan Islam dengan asumsi di atas juga belum tentu benar.
    Di Kupang pernah ada kejadian yg hampir anarkis yg diawali dgn penganiayaan seorang pemeluk nonnasrani yg kurang waras hanya krn orang tsb tdk memakan sejenis roti yg dianggap suci saat kebaktian di gereja tsb.
    Kita memahami bhw sebagian penganut Nasrani di sana masih mempunyai pemikiran yg terkebelakang.

    Namun radikalisme kadang2 juga terjadi krn sebab2 lain spt perasaan teraniaya dgn ketidakberdayaan,pemahaman konsep jihad yg tdk bijak, dan lain2.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: