Dukungan Muslim untuk Obama, Layakkah?

Fakta bahwa Barack Obama punya latar belakang Islam amat dekat boleh jadi merupakan keuntungan yang bisa dimanfaatkan kaum Muslim. Ayah dia seorang Muslim, begitu juga ayah tirinya. Keluarga besar Obama di Kenya dan keluarga Maya Soetoro (adik seibu Barack) di Indonesia mayoritas Muslim. Ketika di Indonesia, mereka merayakan hari raya Muslim. Di balik pintu rumah nenek Obama di Kenya terpampang plang “Allahhu Akbar” hasil cat tulisan tangan.
Dan secara mengejutkan beberapa aktivis Islam senior yang satu-dua tahun di bawah angkatan alm. Nurcholish Madjid mencari akses ke Maya Soetoro. “Kalau orang sudah pernah Islam, mudah kok mengembalikan lagi ke haribaan Islam,” kata bapak itu bersemangat. Jelas kaum Muslim bersemangat mendukung Obama dengan harapan bisa melakukan perubahan positif, kalau bisa menguntungkan umat Islam.

Namun politik kerap merupakan sesuatu yang kompleks, penuh kepentingan, dan propaganda. Umat Islam berharap jika Barack Obama jadi presiden AS dia bisa mengeluarkan keputusan politik yang lebih baik dan membuat Islam positif. Boleh dibilang umat Islam mengandalkan pihak lain agar kondisi bisa berbalik menguntungkan Islam. Umat Islam berusaha membangkitkan kembali nama tengah “Hussein” di antara Barack dan Obama, sementara Obama bilang, “Orang Amerika tak peduli dengan nama tengah.”

Tapi…Untuk Anda yang makin tak toleran, untuk apa berharap Obama menang? Untuk kekuasaan yang membiarkan anti-keberagaman merajalela, untuk apa berharap Obama menang? Untuk apa umat Islam yang citranya sedang terpuruk berharap Obama menang?

Obama sudah beberapa kali melakukan lobi untuk mendapat dukungan masyarakat Yahudi yang punya kekuatan politik besar di AS. Dia sulit melepaskan faktor dukungan kaum Yahudi untuk kepentingan politik. Di awal-awal kampanye, Obama bersikap keras sekali terhadap Iran, boleh jadi untuk menunjukkan patriotisme dan mengentalkan nasionalisme. Namun kini pandangannya jauh lebih toleran dan mau mengambil jalan damai bila suatu ketika AS harus berhadap-hadapan dengan Iran perihal nuklir. Obama lebih memandang penting lobi Arab daripada lobi Islam.
“Tak seorang pun pernah menderita lebih dari orang Palestina,” kata Obama bersimpati pada nasib bangsa Palestina, tapi sebagaimana sikap politik AS selama ini, dia seorang pendukung-keras Israel. Sejauh ini dia tak pernah mendukung Hamas, bahkan menganggap organisasi itu bagian dari terorisme. Bahkan bersama dengan McCain dalam debatnya mereka setuju untuk membunuh Obama, at any cost! Kecenderungan itu boleh jadi membuka opini publik di Indonesia terhadap Obama ternyata negatif.

Di balik sikap Obama yang jujur, terbuka, moralis, menjanjikan harapan perubahan, walau bagaimanapun dia tetap produk AS yang boleh jadi hanya sedikit saja berbeda dengan politisi AS kebanyakan. Sejauh ini Obama dianggap membangkitkan semangat presiden John F. Kennedy, meski pahlawan mudanya ialah Martin Luther King, Jr. dan Mahatma Gandhi—dua orang yang jauh lebih mengedepankan perdamaian dan moral ketimbang politik.

OBAMA, ISLAM dan INDONESIA
Indonesia dan Islam entah merupakan prioritas ke berapa bagi Obama setelah cita-cita Amerika (American Dream), demokrasi, humanisme, perdamaian, dan Kenya. Apalagi pada edisi 21 Juli lalu New Yorker, majalah budaya paling terkemuka di AS, meledek Obama secara keterlaluan di sampulnya. Obama digambarkan mengenakan baju koko dan surban, mengepalkan tangan bersama Michelle istrinya, yang menyelempangkan senjata api di punggung bersama magasin, berseragam tentara, sementara di dinding Gedung Putih terpasang foto Osama bin Laden dan bendera AS jadi bahan bakar tungku pemanas.
Meski sebentar punya masa kecil menyenangkan di Jakarta, dia kurang terkesan oleh Indonesia dan ayah tirinya yang asli Indonesia. Islam dan Indonesia malah memberi buntut kontroversi konyol dan bisa dimanfaatkan oleh lawan politik yang picik.

Sekarang ini banyak orang berharap Barack Obama menang dalam pemilu presiden pada November yang akan datang. Publik ingin wajah politik militeristik dan egois yang dijalankan Geroge W. Bush, Jr. berakhir. Namun lawan Obama, John McCain (Partai Republik), menang mudah dalam pemilihan kandidat calon presiden dan karena itu punya persiapan kampanye lebih baik dan lebih matang. Persaingan diperkirakan berlangsung alot.
Meski terbukti bisa bekerja sama dengan semua pihak, tidak semua draft politik Obama disetujui, bahkan oleh koleganya di Partai Demokrat. Apa orang akan menunggu Obama jadi presiden lalu berharap dia membuat perubahan bagi dunia?
Bila umat Islam AS memberi dukungan pada Barack Obama, apakah itu akan berdampak signifikan? Menurut sejumlah komentar, pada pemilihan umum empat tahun lalu umat Islam memberi suara pada George W. Bush, Jr. karena malas mendukung Al Gore yang lebih erat terkait dengan Yahudi. Tapi dukungan itu terbukti sia-sia berdampak pada dunia Islam.

Islam di AS jelas tengah mengalami masa sangat sulit setelah peristiwa 9/11 dan tuduhan bahwa pelakunya adalah ekstremis Islam sulit sekali dialihkan. Tapi yang menarik syiar Islam di sana mengalami peningkatan cukup pesat. Kini estimasi paling optimistik menyebutkan jumlah kaum Muslim AS kira-kira tujuh juta jiwa. Publishers Weekly melaporkan penerbitan buku Islam naik drastik, sementara Michael Wolfe bersemangat bilang bahwa Islam bakal menjadi agama Amerika masa depan.
Sejumlah pemimpin umat Islam dari berbagai kelompok jadi tokoh yang menonjol di peta politik AS, antara lain Ingrid Mattson (ketua ISNA—Islamic Society of North America), Keith Ellison (Muslim pertama yang jadi anggota Kongres AS dari Partai Demokrat), dan Hamza Yusuf Hanson (ulama dari Zaytuna Institute, penasihat informal presiden Bush untuk urusan Islam). Jelas ini isyarat bahwa yang bisa mengangkat Islam ialah kaum Muslim sendiri, bukan presiden dengan masa kecil berlatar belakang Islam, suka main di halaman masjid atau ikut-ikutan ngaji dan shalat waktu masih tinggal di Indonesia.

Saya jadi ingat percakapan dengan seseorang yang sekian lama didik di Amerika Serikat. Setelah pensiunan sebagai arsitek dan ngobrol sehabis dia jumataan dia bilang, ” Amerika ini adalah bener-bener negara Islam. Karena segalanya serba teratur dan disiplin”, kata dia, tak ada maksud ber-ironis. Lalu sekarang, ada tendensi muslim untuk mengkhayal apabila Obama menjadi presiden Amerika, akan banyak positifnya bagi kaum muslim, dengan hanya beralasan bahwa ayahnya Obama itu seorang muslim dan pernah berkecimpungan dg dunia Islam di Indonesia…
Kedua contoh diatas adalah mencerminkan bahwa dunia Islam itu memang kerdil dan tak mawas diri. Banyak mengharap dan pencatutan. Yang bisa mengangkat Islam ialah kaum Muslim sendiri, bukan presiden dengan masa kecil berlatar belakang Islam, suka main di halaman masjid atau ikut-ikutan ngaji dan shalat waktu masih tinggal di Indonesia. Harap dicamkan!

Iklan

5 Tanggapan to “Dukungan Muslim untuk Obama, Layakkah?”

  1. wyd Says:

    kalau anda mengikuti kampanye obama dari awal saat bertarung melawan clinton, anda akan mendengar kata2 obama yang menegaskan bahwa ‘saya tidak pernah menjadi muslim!’

  2. K. geddoe Says:

    Koreksi, AFAIK Obama Sr. (ayah Obama) bukan seorang yang religius, ia ateistik.

  3. ki mutloni (nek imut yo dikeloni) Says:

    lha kalo presiden amerika itu islam, trus islam jadi hebatkah? loh islam koq malah numpang amerika?
    wong islam itu emang lucu….
    * 😉 ketawa.. eh bukan ternyata yg keluar kentut*

  4. miaji Says:

    obama jelas bukan islam, dan bahkan dia kerabat paling dekat dengan kaum Yahudi. Kalo mau baca silakan mampir ke blog saya.. http://miaji.wordpress.com

    @ki mutloni
    kalau presiden amerika ternyata orang islam berarti ada dua kemungkinan paling logis :
    1. Islam sudah berjaya dan hebat terlebih dahulu, karena ini membuktikan bahwa orang islam bisa mengalahkan dominasi Yahudi di Amerika, dan AMERIKA telah menjadi negara yang islami (Kapankah ini terjadi? HANYA Allah Yang Maha Tahu dan Maha Berkehendak)
    2. Presiden tersebut sudah terpilih sebelumnya, lalu dia masuk ISLAM setelah menjadi presiden. Apakah islam akan menjadi hebat? Tidak ada yang bisa mengetahui dengan pasti.

    Kejayaan islam bukan ditentukan oleh negara manapun, yang menentukan hanyalah Yang Maha Tahu. Yang terpenting adalah bagaimana usaha setiap muslim. Karena yang Allah lihat adalah USAHA, masalah hasil, Allah akan menjamin Surga. Kemenangan di dunia bukan yang utama.

    Kalo anda bilang wong islam itu lucu, boleh saja. Islam tidak hanya lucu (dalam artian, lucu dan tertawa pertanda bahagia) tapi juga luar biasa. Islam itu, menggembirakan sekaligus menakutkan, mencengangkan, menegangkan, melegakan, mencerahkan, dan menyelamatkan. Anda harus mengetahuinya.

    Wallahu’alam

  5. DEBENHAMS Says:

    dalam memandang permasalahan ini…
    ga penting bagi gw , baik itu OBAMA muslim, kek… Kafir kek..
    yang penting apakah dia bisa memberikan manfaat bagi bangsanya dan dunia .. jangan sekali kali meniru apa yang telah dilakukan oleh BUSHter Laknat !..

    Bagi setiap muslim amerika , memilih presiden memang dilema ..
    karena semua kandidat sama sama tidak menguntungkan bagi muslim..
    tapi dalam memecahkan permasalahan ini, bisa diambil jalan tengah yaitu dengan MEMILIH kandidat yang LEBIH SEDIKIT MADHARATNYA…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: